Mengentaskan Permasalahan Penurunan Harga Komoditas Pertanian Demi Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia

29 September 2020

Sektor Pertanian, merupakan salah satu dari sekian sektor yang berpengaruh di Indonesia. Negara dengan corak agraris ini, seyogyanya menjadi salah sektor dengan pertumbuhan yang positif menimbang dengan letak geografis Indonesia yang cocok serta kualitas dari kontur tanah yang ideal. Pada jamannya, sektor pertanian menjadi sektor dengan pertumbuhan yang positif dan menjadikan negara Indonesia menjadi lumbung pangan ataupun swasembada komoditas pertanian di era orde baru dan merupakan catatan historis yang perlu dijadikan acuan. 

Perkembangan jaman dan pergantian tahun membuat jalannya perekonomian kian berubah. Tak terkecuali dari sisi sektor pertanian. Pergantian kearah industrialisasi menjadikan sektor pertanian seakan akan menjerit ditengah keadaan diakibatkan pembebasan lahan untuk kaum kaum swasta bahkan asing dalam mendirikan bangunan bangunan industri. Tak khayal para petani serta para pengelola lahan pertanian menjadi korban akibat keserakahan para kaum borjuis. Maka tak heran apabila banyak dari penerus bangsa Indonesia tidak tertarik menjadikan petani sebagai profesinya dimasa depan karena berbagai permasalahan yang ada. Tak terkecuali dengan permasalahan yang ada hingga pada saat ini. Baik dari permasalahan distribusi yang panjang sehingga harga barang ditangan konsumen menjadi tinggi. Lalu belum adanya perubahan mindset dari petani yang cenderung masih konvesional dan belum memperhatikan perkembangan teknologi modern serta edukasi lebih yang menjadikan adanya ketidakefisiensi produksi. Permasalahan lahan yang kian menyempit akibat pembangunan infrastruktur dan industri serta permasalahan ketahanan pangan komoditas pertanian di masa depan. Itu beberapa poin permasalahan yang perlu diperhatikan dan perlu dicari jalan keluarnya agar berbagai permasalahan sektor pertanian tersebut dapat terselesaikan dengan efektif. 

Maka dari itu, disini saya akan mengangkat dan membahas terkait salah satu permasalahan yang ada yaitu masalah katahanan pangan di era pandemi Covid-19 pada saat ini. Pandemi ini membuat permasalahan multidimensi yang hanya berawal dari satu sektor saja yakni kesehatan. Tak khayal permasalahan multidimensi itupun pada akhirnya berdampak ke sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari sisi demand yang cenderung menurun dengan supply yang terbilang konstan/tetap.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Sektor Pertanian tumbuh positif per q-to-q pada triwulan kedua. Semua ini didukung karena beberapa sub sektor yang mengalami pertumbuhan yang terbilang impresif. Hal ini disebabkan oleh beberapa asumsi, salah satunya didorong oleh pergeseran musim tanam yang mengakibatkan puncak panen padi terjadi pada triwulan kedua tahun 2020. Namun, apabila ditelusuri kembali pada sub sektor peternakan mengalami kontraksi 0,55 per q-to-q pada triwulan kedua. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ada penurunan demand terhadap hewan ternak. Dengan terkontraksinya sub sektor tersebut, tentu akan berpengaruh juga ke sub sektor lainnya, karena permintaan tanaman pangan berupa palawija dan sebagainya terhadap peternakan pun ikut terpengaruh sehingga permintaan pun menurun. 

Dan juga dengan adanya mekanisme protokol kesehatan, Pembatasan Sosial Berskala Besar yang kembali diterapkan akan mempengaruhi permintaan ataupun tingkat konsumsi terhadap komoditas pangan. Hal ini dapat dicerminkan dengan pelarangan ataupun pembatasan ketika ada acara acara besar berupa pernikahan dan sebagainya, serta akomodasi hotel dan pariwisata yang tentu akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap komoditas pangan yang mengalami penurunan. Hal itupun tercermin juga pada Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 22,31 dan 6,51 per q-to-q pada triwulan kedua. Semua itu diperkirakan akibat kecenderungan masyarakat yang mengubah pola konsumsi masyarakat, memasak dan makan dirumah dan merealokasikan dana/pendapatannya ke kebutuhan yang lebih penting atau berjagajaga. Sehingga ketersediaan komoditas pertanian masih ada di tangan petani dan harga jual nya pun cenderung miring. Ini yang menjadikan permasalahan di sisi off farm. Dengan begitu, perlu ada mekanisme baru dalam menyelesaikan permasalahan ini terlebih dalam akses pemasaran dan penjualan.

Dengan terjadinya oversupply di era pandemi saat ini pada komoditas pertanian mengakibatkan sisi demand mengalami penurunan sehingga harga jual dari hasil pertanian menjadi anjlok. Dengan adanya fenomena semacam itu, sempat nilai NTP pada bulan Februari hingga Mei mengalami penurunan hingga <100. Namun, berdasarkan data BPS menyebutkan bahwa ada kenaikan Nilai Tukar Petani berjumlah 0,56% per akhir Agustus lalu menjadi 100,65. Seharusnya ini menjadi titik balik yang bagus pertanian Indonesia untuk kedepannya. Solusi dalam mengatasi permasalahan seperti dari saya sebagai mahasiswa dan penulis dari essay ini ialah segera menutup keran impor komoditas yang jumlahnya telah tercukupi oleh produk lokal. Dengan begitu, harga jual komoditas pertanian khususnya dapat tetap terjaga. Lalu dengan mendorong kembali kebijakan pengeluaran pemerintah untuk membeli komoditas pertanian demi menjaga kestabilan harga serta menggenjot kinerja sektor ekspor terhadap komoditas pertanian yang surplus untuk menjaga stabilitas harga.



Komentar